Sabtu, 02 Juli 2016

Rumah Buku Oriental

Beberapa tahun lalu, aku pernah mengenal sebuah toko buku yang menjual buku-buku berbahasa Mandarin. Nama toko buku itu adalah Toko Buku Oriental, atau aku lebih suka menyebutnya Rumah Buku Oriental. Mungkin karena belum memiliki banyak pengunjung, suasana toko buku itu lebih mirip perpustakaan dengan beberapa rak besar yang memajang banyak buku dengan tema yang beragam; misalnya saja buku tentang resep masakan atau keterampilan, berbagai jenis kamus, majalah dan novel. Setelah aku mengetahui kalau ternyata ada toko buku yang khusus menjual buku-buku berbahasa Mandarin, maka dengan segera tempat itu langsung menjadi salah satu tempat favoritku. Waktu itu, nyaris setiap pagi, aku selalu berusaha menyempatkan diri untuk mampir sebentar ke sana, baik itu untuk membeli buku, atau sekedar melihat-lihat saja. Dari banyak buku yang tersedia di sana, aku paling menyukai novel karya penulis Chiung Yao. Meskipun kisah dalam kebanyakan novelnya bercerita tentang kesedihan atau tragedi percintaan, aku tetap menyukainya, bahkan aku ingin terus bersemangat membacanya, karena aku memang pecinta kisah-kisah romansa. Sayangnya, sebelum koleksiku lengkap, toko buku ini tiba-tiba saja raib, tahu-tahu sudah berganti dengan toko yang lain. Sejak itu, aku merasa sangat kehilangan. Meski pernah suatu kali, ada yang memberikan lokasi baru dari toko buku tersebut, tapi aku masih belum menemukannya. :(






Sabtu, 04 Juni 2016

Kisah Wastini : Awal Kehidupan Baru

Ibarat tetesan embun pagi yang menitiki dedaunan, aku hadir sebagai salah satu kehidupan baru dari sekian kehidupan baru yang telah menjanjikan harapan baru bagi dunia. Awalnya, aku hanya embrio yang tumbuh dan berkembang dalam rahim ibuku. Sebagai calon kehidupan baru, aku diberikan waktu untuk menyempurnakan diriku, agar di saat waktunya tiba, aku telah benar-benar siap untuk melihat dunia yang selanjutnya akan menjadi rumahku. Aku juga harus melalui tahap demi tahap proses pembentukan struktur manusia, berusaha sabar menjalani fase demi fase kelengkapan organ penyusun tubuh : mulai dari otak, tulang belakang, jantung dan seterusnya. Aku merasa mulai membesar dan akan terus membesar.
Hingga suatu saat, aku akhirnya mulai bisa mendengar suara dan melihat cahaya.
Setiap hari, seperti ada saja suara seseorang dari luar sana yang berusaha mengajakku bicara dengan bahasa yang sama sekali belum kupahami. Ini sangat misterius dan aneh. Aku mulai penasaran, aku sangat ingin tahu siapa dia dan apa hubungannya denganku. Apakah dia ibuku? Andai aku bisa keluar dari sini, tetapi kapan dan bagaimana? Aku hanya bisa mengeluh, sambil mengetuki dinding rahim, hanya untuk mencoba memberitahu ibuku, bahwa aku sangat BOSAN terus berada di sini dan aku ingin segera KELUAR dari sini.
"Ough!"
Ups, aku mungkin telah membuat ibuku sedikit kesakitan dan ini telah membuatku mulai menyesali akibat perbuatanku. Aku tak menyadari sebelumnya, apakah aku memikirkan perasaannya juga?
Saat ini, aku dan ibuku, seharusnya kami berdua sedang bersama-sama sedang menikmati proses menjadi calon anak dan ibu baru. Aku juga banyak mempelajari hal baru, salah satunya adalah aku harus belajar bernafas dengan cara menghirup dan mengeluarkan air ketuban. Aku sering tak sengaja menelan air ketuban terlalu banyak, sehingga tak jarang cegukan berkali-kali, hek..hek. Rasanya benar-benar tidak enak dan baunya pun sedikit amis. Meskipun begitu, air ketuban ini berfungsi bagaikan inkubator istimewa yang seakan khusus diciptakan untukku, karena selain untuk menjaga agar tali pusatku tidak berkerut atau kering, air ini juga berperan dalam menstabilkan suhu di dalam rahim ibuku, agar aku selalu merasa hangat. Aku juga bahkan sudah mulai bisa tidur jika aku merasa lelah atau mengantuk.
Seirama dengan usia kandungan ibuku yang terus bertambah tampaknya sudah mulai berpengaruh juga terhadap posisi tubuhku di dalam rahim. Aku sudah tak lagi berada di atas, seakan seperti ada energi yang tak dikenal yang pelan-pelan terus mendorongku ke bawah, hingga ke bagian panggul ibuku. Aku tahu, kalau hari kelahiranku sudah semakin dekat, seakan berbanding lurus dengan wujudku yang semakin mendekati "sempurna".
Aku bahkan sudah berada di pintu rahim, hanya tinggal menunggu saja kapan pintu itu akan pelan-pelan mulai terbuka.
Suatu hari, aku seakan merasakan seperti ada tenaga aneh yang terus berusaha untuk mendorongku dengan tekanan yang lebih keras. Apakah mungkin sudah waktunya? Mungkinkah saat ini, ibuku saat ini sedang berusaha mengeluarkanku dari sini?
Aku tak tahu apa yang sebenarnya terjadi, karena sesuatu yang tadi mendorongku itu ternyata hanya sebentar-sebentar muncul, bagaikan serangkaian interval. Aku dipaksa terus menunggu dan menjadi gusar karena pintu rahim sama sekali tak menunjukkan tanda-tanda adanya pembukaan, meskipun sedikit saja. Aku mulai merasa lelah, entah harus berapa lama lagi aku harus bertahan di dalam sini. Selagi aku terus meragu, tiba-tiba saja setitik cahaya muncul dari lubang bekas sayatan yang berada nyaris tepat di atasku. Aku rasa, ada sesuatu di atas yang sedang merobek perut ibuku. Sebelum aku sempat berpikir, tiba-tiba saja ada tangan asing yang menarik kepalaku keluar.
" Aaaaaaa ... "
Aku mulai menangis sejadi-jadinya, karena takut dan terkejut. Sementara itu, si pemilik tangan asing tadi yang ternyata salah satu dokter yang membantu persalinan ibuku, dengan bangganya, mencoba mengangkat tubuhku yang masih bercampur dengan bercak darah, tinggi-tinggi.
"Bayinya perempuan lagi, Pak!"
Dokter berperawakan sedikit gemuk itu rupanya pernah membantu persalinan ibuku sebelumnya, sehingga kali ini dia seakan berusaha memberitahu ayahku yang mungkin ada di ruangan itu untuk menyaksikan proses persalinan.
Saat itu juga, aku baru mengetahui bahwa aku ternyata sudah mempunyai seorang kakak perempuan.
Setelah rambut dan kulitku dibersihkan dari sisa darah yang tadi masih menempel, tubuhku lalu dibungkus dengan kain yang terbuat dari bahan halus, sebelum akhirnya aku kembali dibaringkan di sisi ibuku. Aku berusaha membuka mataku untuk melihat lebih jelas seperti apa wajah wanita yang disebut ibuku itu. Ternyata dia itu adalah seorang wanita yang masih sangat muda dan juga cantik, meskipun wajahnya masih terlihat pucat dan tanpa memakai riasan apa pun. Untuk selanjutnya, mataku mulai menjadi lapar, seakan-akan mau melahap semuanya. Aku menjadi bingung, karena sejak tadi yang kulihat, tidak ada hal yang menarik, selain sekumpulan orang-orang sibuk. Malam itu, aku mulai dipindahkan ke kamar bayi. Aku tidur dengan teman-teman kecil yang mungkin usianya sebaya denganku, tentu saja di tempat tidur kami masing-masing. Sejak malam itu, aku tidak bebas bertemu dengan ibuku. Ada waktu-waktu tertentu, seorang dari mereka akan mengantar aku pada ibuku, misalnya saja saat menyusui. Awalnya aku merasa tak nyaman, karena aku seakan belajar hal yang baru lagi. Saat ibuku menyusuiku, aku berusaha untuk tidak menggigit putingnya terlalu keras, agar ibuku tidak merasa sakit.
Karena air susu ibuku tidak terlalu banyak, aku terpaksa harus belajar juga menghisap puting sintetis, maksudku ujung botol susu yang dirancang seakan menyerupai puting asli, namun tetap saja rasanya berbeda.
Setelah selesai disusui, aku biasanya selalu bersendawa, agar gas dalam perut kecilku bisa keluar dan tak merasa kembung lagi. Saat itulah, ibuku akan berusaha menepuk bahuku dengan lembut, sehingga aku bisa gumoh, mengeluarkan sebagian sisa susu yang tadi kutelan, agar aku bisa kembali bernafas dengan lega. Setelah itu, aku pasti akan dikembalikan lagi ke tempat tidurku, karena sebagian besar kegiatanku adalah nyaris tidur sepanjang hari. Jam-jam sore biasanya menjadi saat yang mungkin saja paling menyebalkan bagiku, karena pasti akan ada sejumlah orang yang berkumpul di balik jendela besar kamar kami dengan mata yang seakan mengawasi dan memata-matai setiap gerak-gerik kami, bahkan ada beberapa dari mereka yang dengan sengaja menunjuk-nunjuk kami dengan antusias. Daripada melihat wajah mereka, aku lebih memilih untuk pura-pura tidur saja.
Setelah usiaku tiga hari, akhirnya aku akan pulang ke rumahku yang sebenarnya. Sejak pagi, ayah membantu ibu untuk merapikan barang keperluan yang akan dibawa, juga sebuah keranjang kecil dari bambu untuk membawaku pulang bersama mereka. Juga ada kakak perempuanku yang ternyata ikut datang menjemputku. Mata gadis cilik itu seakan semakin membesar saat melihatku, sementara tangan kecilnya terus menjamah kepala dan wajahku dengan gerakan yang sembarangan, sehingga membuatku sangat tidak nyaman. Akhirnya karena tidak tahan dengan perlakuan kakakku itu, aku mulai menangis.
"A-dek a-nye! A-dek a-nye!" kakakku tiba-tiba menyeletuk dengan suaranya yang masih sedikit cadel dan agak tertatih-tatih. Mungkin maksudnya : Adik menangis.
Siapa yang menyangka jika dari ucapan kakakku yang tak jelas itu, ayahku seakan mendapatkan ilham untuk menamaiku : ANYELIR WASTINI.
Nama ANYELIR diambil dari nama bunga yang katanya sering digunakan sebagai lambang cinta, kekaguman dan perasaan terima kasih yang biasa ditujukan kepada kaum ibu. Sedangkan nama WASTINI, aku sebenarnya tidak tahu pasti, tapi mungkin artinya adalah WAspada, Hati-haTI, juga BeraNI. Semoga saja :)















































Jumat, 20 Mei 2016

Happy Anniversary 6th Birai Metafora!

Hari ini, Birai Metafora genap berusia enam tahun. Selama enam tahun perjalanannya, aku menyadari kalau aku sebenarnya belum produktif dalam menulis. Masih banyak ide yang berkeliaran dalam ruang anganku yang belum mampu kutuangkan dalam bentuk tulisan. Aku seringkali bersemangat seakan telah menemukan sesuatu untuk dijadikan bahan penulisan, tetapi saat bersiap untuk menulis, otakku tiba-tiba saja menjadi kosong, sehingga aku menjadi bingung dan melupakan apa yang hendak kutulis. Sebagai penulis pemula, aku disarankan untuk membiasakan diri menulis, bahkan menjadikan "menulis" sebagai bagian dari kebutuhan sehari-hari. Meskipun sulit, aku mencoba menulis lagi, setelah beberapa tahun vakum, tidak menulis apa pun. Oleh karena itu, aku siap memulainya dari nol.
Aku juga ingin mengucapkan terima kasih kepada kalian yang mungkin masih setia dengan Birai Metafora. Saran dan kritik dari kalian, tentunya akan aku terima dengan senang hati.
Akhir kata, aku mengajak kalian semua untuk senantiasa bersemangat dan terus menulis.

Bandung, 20 Mei 2016
Salam Hangat,
Valley Yang


Senin, 04 April 2016

Mister X

Namaku siapa, tidak terlalu penting. Kau boleh memanggilku Mister X, atau nama apa pun yang kau suka. Aku mungkin dulu dilahirkan dari batu, karena aku seakan hidup begitu saja. Selanjutnya, alam yang memeliharaku. Berkat belas kasihan alam pula, aku bisa minum dan mandi dengan air hujan, juga berjemur dan menghirup energi dari matahari. Aku menambah nutrisi tubuhku dengan memakan buah ranum yang dihasilkan dari pohon-pohon. Jumlahnya lebih dari cukup, bahkan tak pernah habis, sehingga aku tak perlu lagi merasa khawatir, karena perutku akan selalu kenyang sepanjang waktu.
Karena itu, tak heran aku selalu merasa bahagia, aku tak perlu memikirkan apa pun lagi.

Senin, 22 Februari 2016

Salma (III)

Pekerjaanku sebenarnya tidak terlalu sulit. Aku hanya ditugaskan untuk menjaga dan menemani Nyonya tua, baik itu berjalan - jalan, atau menonton televisi di rumah.    
Nyonya tua sangat murah hati, beliau suka sekali memberiku sedikit uang jajan, selalu katanya untuk dibelikan beberapa potong pisang goreng. Nyonya tua memang gemar sekali makan pisang goreng, meskipun itu katanya sudah dilarang oleh salah seorang cucu perempuannya, karena takut terkena panas dalam, tetapi Nyonya tua tampaknya tetap bandel.
Sebenarnya, ada sesuatu mengenai hal ini yang membuatku sangat geli. Nyonya tua bahkan sengaja membeli pisang goreng yang sudah dalam keadaan dingin, karena kalau panas, katanya takut panas dalam. Nenek tua ini ada-ada saja.
Selain itu, kata orang, cara berpikir Nyonya tua masih pemikiran orang jaman dulu, misalnya saja saat beliau menawar ongkos becak yang seharusnya seribu rupiah, beliau tetap ngotot lima ratus rupiah. Untungnya, tukang becak itu tidak mempermasalahkan soal ongkos. Ia hanya tersenyum dan mempersilakan kami berdua naik. Lucunya, setelah kami sampai di depan rumah, Nyonya tua malah mengeluarkan uang seribu rupiah, bukan lima ratus rupiah seperti kesepakatan awal tadi. Tukang becak itu kembali tersenyum, rupanya ia sangat mengenal Nyonya tua kami dengan baik.






Sabtu, 03 Oktober 2015

Salma (ll)

Mobil sedan Corolla berwarna hijau lumut itu mulai melaju dengan kecepatan sedang, tidak lama kemudian, kami sudah meninggalkan perbatasan desa, karena ini kali pertamaku naik mobil, aku merasa sedikit cemas.
Bibi Onah rupanya mengerti kekalutanku, dia berusaha untuk selalu menenangkanku. Dia bilang ini mungkin pengalaman pertamaku, jadi wajar jika aku merasa takut. Dia merogoh beberapa butir permen dari dalam saku mantelnya dan memberikannya kepadaku. Aku mulai merasa sedikit tenang dan perlahan dan perlahan bisa menikmati perjalanan.
Supir kami, Pak Momot tampak serius berkonsentrasi dalam menyetir. Dia pria yang tak banyak bicara, namun kelihatannya dia orang yang baik. Bibi Onah lalu mengeluarkan beberapa bungkus kecil roti aneka rasa dan beberapa gelas air mineral dari dalam tasnya dan mulai membaginya di antara kami.
"Salma, makanlah dulu. Bibi tahu kau belum makan sejak pagi," kata Bibi Onah sambil mencoba membantu membukakan sebungkus plastik roti dan memberikan isinya kepadaku. Aku kebetulan dapat roti yang rasa coklat. Namun sebelum rotinya kutelan habis, tiba-tiba saja kepalaku terasa pusing, aku juga merasa ingin muntah. Untunglah Bibi Onah lekas tanggap. Dia segera menyiapkan kantung kertas buatku agar aku bisa muntah sepuasnya. Cairan agak kental dan berbau asam itu tiba-tiba meluncur begitu saja dari dalam mulutku ke dalam kantung kertas yang telah disiapkan Bibi Onah. Setelah itu, perutku masih terasa mual.
"Ada apa dengannya, Bi Onah?" tanya Pak Momot yang tiba-tiba saja menyeletuk. Baru kali ini kudengar dia bicara, suaranya berat dan sedikit kasar.
"Oh, tidak apa-apa. Anak ini hanya sedikit mabuk saja," jawab Bibi Onah. Tangannya sibuk mengulas tengkuk, dada dan perutku dengan minyak angin. Aroma minyak angin itu sangat pedas, sejujurnya aku kurang menyukainya. Setelah itu, Bibi Onah menyuruhku tidur, dia membuka mantelnya dan menyelimutiku dengan mantel hitam berbahan wol itu, namun aku tetap tidak bisa tidur.
Kurang dari tiga jam, ternyata kita sudah tiba di kota. Jalanan yang macet, kendaraan yang hilir-mudik, orang-orang yang berkerumun di sepanjang jalan yang dipenuhi pertokoan, menjadi pemandangan baru buatku. Aku takjub menyaksikan gedung-gedung yang menjulang tinggi hingga nyaris menyentuh langit.
Beberapa saat kemudian, mobil mulai berbelok arah memasuki jalan yang lebih kecil. Pak Momot perlahan mulai mengurangi kecepatan, sehingga mobil mulai berjalan perlahan menyusuri deretan perumahan, melangkahi beberapa kali polisi tidur, juga segerombolan anak-anak yang sedang bermain bola di jalan.
Tak lama kemudian, mobil pun akhirnya berhenti di depan pintu gerbang sebuah rumah berpagar coklat dengan gugusan Sansiviera yang berbaris rapi menghiasi taman kecil yang tersembunyi di balik pagar.
"Kita sudah sampai," sahut Pak Momot sambil bergegas keluar dari mobil dan segera mendorong pintu gerbang pagar yang ternyata tidak dikunci. Setelah itu, Pak Momot naik kembali untuk menjalankan mobil sehingga mobil pun bergerak maju memasuki pekarangan rumah.
"Ayo Salma, kita turun," kata Bibi Onah sambil menyiapkan tas dan mengajakku keluar dari dalam mobil. Sementara itu, aku melihat Pak Momot sedang mengeluarkan sisa barang kami yang masih tersimpan di bagasi mobil sambil menghisap kretek di mulutnya.
Bibi Onah kemudian mengajakku ke depan pintu rumah yang ternyata terdiri dari dua buah pintu. Pintu besi di luar mungkin dimaksudkan untuk melindungi pintu di sebelah dalam yang terbuat dari kayu.
Bibi Onah lalu menekan tombol bel yang terletak di antara sela-sela pintu besi dan pintu kayu sebanyak dua kali. Sesaat kemudian, terdengar suara melodi yang cukup nyaring. Tak lama menunggu, seorang gadis muda berkulit hitam-manis datang membukakan pintu untuk kami. Sebut saja namanya M'ba Kiram.
"Aih, lihatlah siapa yang datang," sapanya dengan ramah. "Nyonya kita pasti akan sangat senang."
Mba Kiram lalu mempersilakan kami masuk ke dalam rumah. Aku kemudian diajak menemui Nyonya tua yang kebetulan saat itu sedang menonton televisi di ruang tamu. Nyonya tua tampak sangat senang begitu melihatku.
"Nyai kecil...Nyai kecil," sahutnya berkali-kali sambil tertawa-tawa kecil. Kupikir pasti dia sudah gila, namun sejak hari itu, aku jadi punya julukan baru, Nyai kecil.




Kamis, 17 September 2015

Salma (l)

Sebut saja namaku Salma. Aku adalah anak bungsu dari lima bersaudara, juga anak perempuan satu-satunya dalam keluargaku. Ayah dan ibuku bekerja sebagai petani. Kami memiliki sepetak tanah yang diusahakan bersama. Tanah tersebut ditanami jagung, kacang-kacangan, serta sayuran berusia pendek. Ketika musim panen jagung tiba, semua orang menjadi sibuk memoceli, mengeringkan dan mengemas biji jagung hingga siap dijual ke pengepul. Setiap bulan, ayahku pasti berangkat ke kota untuk menjual hasil panennya di pasar. Namun hasil panen tidak selalu bagus. Serangan hama skala besar dan kemarau panjang tiba-tiba menghantui desa kami. Kekeringan dan gagal panen mulai menjadi momok yang menakutkan bagi para petani. Hal itu berpengaruh juga kepada keluargaku. Pundi-pundi keuangan kami semakin menipis karena ayah tak mampu lagi menjual hasil panennya, sedangkan anggota keluarga kami rbanyak dan kami semua tetap harus makan. Akhirnya aku pun berhenti sekolah, padahal saat itu usiaku sudah delapan tahun dan aku sudah duduk di kelas dua sekolah dasar. Sejak itu, aku mulai belajar membantu ibu memasak di dapur dan mengerjakan pekerjaan rumah tangga seperti menyapu dan mencuci pakaian. Kata ibu, aku harus mulai belajar untuk mempersiapkan bekal pernikahanku nanti. Aku hanya mengangguk, meskipun sebenarnya saat itu aku masih belum mengerti.
Empat tahun berlalu, namun keadaan perekonomian keluargaku tak kunjung membaik. Ayahku mulai sakit-sakitan sehingga nyaris seluruh uang kami habis untuk biaya berobat. Dua orang kakakku yang mulai beranjak dewasa akhirnya mulai bekerja sebagai buruh pabrik. Penghasilan mereka tidak banyak, mungkin hanya cukup membeli sedikit beras, kerupuk dan beberapa potong ikan asin. Saat itu, usiaku sudah dua belas tahun dan aku sudah pandai mengerjakan pekerjaan rumah tangga, setidaknya menurut penilaianku. Aku mulai menggantikan tugas ibu memasak, mencuci pakaian, menyapu dan membersihkan rumah karena ibu sibuk mengurus ayah yang sedang sakit.
Suatu hari, pada saat hari raya, salah seorang bibiku yang sudah lama bekerja di kota, sebut saja namanya Bibi Onah, datang berkunjung ke rumahku. Dia adalah seorang perempuan berperawakan pendek dan bertubuh sedikit gempal. Di lehernya, tergantung seuntai kalung berwarna keemasan dengan liontin bunga mawar yang sangat indah. Bibi Onah membawakan sedikit makanan dan beberapa potong pakaian baru.
"Salma, ternyata kau sudah besar," ujar Bibi Onah sambil mengelus-elus kepalaku. "Kakak, bagaimana jika Salma ikut bekerja di kota? kebetulan sekali nyonyaku sedang butuh seorang gadis kecil untuk menemaninya berjalan-jalan. Pekerjaannya mudah, tidak akan disuruh yang berat-berat. Dia akan dapat uang, makanan, juga pakaian. Jadi Kakak tak perlu khawatir," kata Bibi Onah kepada ibuku.
Ibuku diam tak bergeming, aku pikir mungkin dia sedikit bingung mendengarnya.
"Pikirkan saja dulu, tak perlu dijawab sekarang. Aku masih punya waktu beberapa hari lagi sebelum berangkat ke kota. Bila Kakak dan suami Kakak setuju, Kakak boleh segera memberitahuku."
Malam itu, ibu menangis. Dia memelukku erat-erat.
"Apakah kau mau pergi ke kota dengan bibimu?" tanya ibu dengan suara lirih sambil terus mengusap-usap kening dan rambutku. Aku hanya bisa mengangguk pelan. Sejujurnya, aku hanya ingat soal uang yang tadi pagi dibicarakan Bibi Onah kepada ibuku. Aku hanya berpikir kalau uang itu nanti bisa digunakan untuk membantu kelurgaku dan mengobati penyakit ayah.
Beberapa hari kemudian, Bibi Onah benar datang menjemputku. Dia datang pagi-pagi sekali. Dia tidak sendiri, seorang pria paruh baya berperawakan tinggi besar dan berkulit gelap ikut datang bersamanya. Orang itu ternyata supir yang akan mengantar kami ke kota. Sebut saja namanya Pak Momot. Pak Momot dengan sigap memasukkan satu-persatu barang bawaan kami ke dalam bagasi mobil.
"Ayo Salma, sekarang kita berpamitan dengan ibumu," kata Bibi Onah sambil menepuk-nepuk bahuku.
Ibu menarikku ke dalam pelukannya, dia memelukku sekali lagi. Air matanya berlinang dan sorot matanya berkaca-kaca.
"Berhati-hatilah di sana, Nak. Jaga dirimu baik-baik," kata ibu sambil mengusap pipiku yang juga mulai basah dengan air mata.
"Jangan khawatir, Kak. Aku pasti akan menjaganya," kata Bibi Onah, tersenyum. "Sekarang sudah saatnya kita berangkat ya."
Pak Momot membukakan pintu mobil untuk kami. Bibi Onah lalu mengajakku untuk naik ke dalam mobil bersamanya. Kami duduk di jok belakang. Bibi Onah menurunkan kaca jendela mobil agar aku bisa melihat ke luar.
"Ayo Salma, kita lambaikan tangan untik ibumu. Aku melihat ibu masih di sana, wajahnya berurai air mata. Aku berusaha tegar dan melemparkan sedikit senyum, berharap semoga dia melihatnya, sementara keempat kakak laki-lakiku tampak berebutan melambaikan tangan serta mengucapkan selamat jalan.
Aku berjanji dalam hati, perpisahan ini hanya sementara saja, suatu saat aku pasti akan kembali.